SERAGAM ITU MEMBOSANKAN

image

Ayah mertua saya adalah seorang penjual nasi goreng. Sudah berpuluh-puluh tahun dia berjualan nasi goreng sehingga bisa membangun sebuah rumah dari usahanya tersebut. Tempatnya berjualan berupa kios yang berjajar, dan sekitarnya juga berjualan nasi goreng. Belakangan ini dia kadang-kadang mengeluh, bahwa dagangannya sekarang mulai sepi. Pelanggan mulai menghilang semenjak Rumah Sakit yang berdiri di seberang jalan pindah. Hal ini tidak hanya terjadi pada dia saja, tetapi beberapa pedagang nasi goreng di sekitarnya pun sudah mengeluh hal yang sama.

Terdapat 4 orang pedagang nasi goreng yang berjajar saling berdampingan. Harga sama, untuk satu porsi adalah Rp. 12.000,- . Menu yang disajikan pun sama oleh keempat pedagang nasi goreng tersebut. Hanya saja yang membedakan adalah ukuran porsinya. Ada yang banyak, ada juga yang sedikit. Soal rasa, relatif, tapi rata-rata tidak ada yang istimewa.

Beberapa puluh tahun yang lalu, ayah mertua ini merupakan pedagang tunggal. Ketika disekitarnya menjual bakso, maka dia menjual nasi goreng. Pelan-pelan semakin kemari, penjual nasi goreng semakin banyak. Persaingan pun semakin ketat.

Saya membayangkan, jika menjadi seorang pelanggan, maka peluang untuk membeli nasi goreng di masing-masing penjual tersebut adalah sama, yaitu 25%. Semua menyajikan dengan sama. Dari isian, acar, mie, telur, dan lain-lain. Ada seorang pedagang disebelahnya menyajikan dengan porsi yang agak besar, sehingga sedikit ramai dibandingkan tiga pedagang lainnya, termasuk ayah mertua saya. Namun dari segi rasa tetaplah sama.

Saya akhirnya menyarankan, kepada bapak (ayah mertua), jualah makanan yang berbeda dari mereka yang berjualan di sekitar. Kebetulan sepanjang pengetahuan saya, ayah mertua saya cukup pintar juga dalam meramu bakso. Dan saya rasa baksonya cukup enak. Namun hal itu tak bisa diterima, karena artinya akan mencari pelanggan baru lagi. Hal itulah yang sulit. Ya..saya pun berpikir dia tidak salah juga, karena membangun “image” memang tidak gampang. Butuh waktu yang lama. Bahkan walaupun berjualan nasi goreng, ayah mertua saya juga sudah ada “image” dari pelanggan-pelanggan setianya. Karena sudah puluhan tahun dia berdagang.

Tapi tetap saya mempertahankan pendapat saya, bahwa harus ada yang berbeda. Keseragaman membuat peluang akan menjadi sama rata. Jika ingin maju, harus berubah dan berbeda. Dari sisi pelanggan pun, mereka membeli dimana saja tidak ada pengaruh ataupun nilai tambah sama sekali. Yang penting perut mereka terisi dan kenyang.

Akhirnya pun, hanya itu ide yang keluar, dan ditolak. Namun secara umum pula, bukan hanya masalah nasi goreng. Di kota Mataram ini, juga banyak menemukan hal-hal yang seperti itu. Sepanjang Jalan Pejanggik, para turis pasti akan menemukan jajaran para penjual Ayam Taliwang. Jaraknya berdekatan. Kemudian makanan-makanan khas Jawa Timur. Jaraknya pun saling berdekatan. Ada yang laris, ada pula yang tidak. Yang laris karena posisi lah yang menentukan, karena dekat dengan pusat keramaian, dan kebalikannya dengan tidak laris. Untuk rasa, ..saya yakinkan tak ada hal yang istimewa. Kecuali memang untuk para wisatawan. Bagi saya yang menyukai kuliner unik, hal ini justru sangat membosankan.

Dan..ayah mertua saya tetap berjualan nasi goreng hingga saat ini. Tampaknya, walaupun sepi, berubah dan berbeda adalah suatu kemustahilan. Beruntung, tidak ada beban apapun, karena anak-anaknya sudah tidak menjadi tanggungannya.

-Pengempel-

BABI VS SAPI

image

Pagi hari saya harus melayani debat dengan seorang ibu di media sosial dengan tema masalah BABI. Latar belakangnya adalah, di Semarang diadakan sebuah acara “PORK FESTIVAL” alias festival kuliner bertema daging babi.

image

Yang menjadi hangat adalah, ada sebuah ormas Islam yang menyatakan ketidaksetujuan acara tersebut. Padahal acara tersebut sudah mendapatkan ijin dari yang berwenang. Beberapa ada yang pro, dan beberapa pula ada yang kontra. Sampai pada akhirnya saling berteori, mengapa Babi diharamkan dalam Islam, sedangkan sapi tidak.

Semua orang telah tahu tentang cacing pita. Ya, binatang ini yang menjadi topik yang cukup menarik, yang dianggap sebagai mengapa babi diharamkan. Cacing pita hidup didalam kedua binatang ini. Yang hidup di babi adalah Taenia Solium dan yang hidup di sapi adalah Taenia Saginata.

Dari segi ukuran Taenia Saginata lebih kecil dibandingkan  Taenia Solium. Cacing pita tersebut mempunyai pengait untuk mengaitkan badannya pada organ tertentu. Tubuhnya beruas ruas, panjang, semakin jauh dari kepala, maka bagian ekornya semakin besar. Ketika bagian ekor melepaskan diri, maka bagian kepala akan tumbuh lagi bagian badannya. Itulah cara beregenerasinya.

Cacing pita dapat menimbulkan penyakit sistiserkosis atau Taeniasis. Yaitu suatu penyakit yang ditimbulkan karena infeksi dari cacing pita ini. Bahkan bisa sampai ke otak.

Pencegahannya adalah, daging harus dimasak dengan baik. Karena cacing pita rentan terhadap panas. Jika dimasak setengah matang, maka besar kemungkinan masih hidup, dan akan berkembang biak didalam tubuh manusia.

Jadi kalau mengatakan bahwa babi itu diharamkan karena ada cacing pitanya yang berbahaya bagi manusia, itu tidak benar, karena keduanya baik babi dan sapi juga sama-sama hidup cacing pita. Sama-sama punya potensi membahayakan bagi manusia. Hanya saja, jika ingin memakannya harus lewat perlakuan khusus. Memasaknya sampai matang agar cacing mati.

Babi sudah jelas diharamkan dalam Islam tapi tidak ada kaitannya dengan penyakit tertentu. Kalau dikaitkan dengan dengan penyakit tertentu, sapi juga bisa diharamkan, karena vektor virus Antrhax yang juga berbahaya bagi manusia. Namun, jika ada suatu festival seperti diatas, maka yang muslim ya tidak perlu ikut makan. Tidak perlu mencampuri bahkan mencela pihak yang membuatnya, memakannya, karena itulah pilihan mereka. Pastipun mereka sudah tahu dampak dan akibatnya, dan tentu saja juga sudah tahu bagaiamana perlakuannya supaya layak untuk dimakan.

EMPATI DAN SINISME

image

Sabtu dini hari, 14 November 2015 dikejutkan beberapa bom dan penyanderaan di kota Paris. Korban jiwa yang meninggal mencapai ratusan, belum terhitung yang luka berat dan luka psikis serta trauma. Diduga motifnya adalah serangan balasan atas apa yang terjadi di Suriah/Syiria. Seketika itu juga, ISIS yang dikenal sebagai kelompok garis keras dalam Islam, mengatakan bertanggung jawab akan serangan ke Paris tersebut.

Sementara itu disisi lain dunia, banyak bersimpati dan prihatin. Tidak terlupa juga rakyat Indonesia. Namun sebagian rakyat Indonesia menanggapinya dengan nada sinis. Seperti pada sebuah komentar di media sosial diatas.

Saya kira, yang namanya kekerasan bahkan disertai  pembunuhan, pasti dikecam oleh seluruh agama. Apalagi dengan cara membabi buta tanpa pandang bulu. Semua orang pasti tahu,  apa yang terjadi di Timur Tengah. Timur Tengah seperti daerah yang anti kedamaian. Dan, negara-negara Timur Tengah sebagian besar adalah Islam.

ISIS, konflik Sunni-Syiah, Israel-Palestina, Yaman, Suriah, Libanon dan seterusnya membuat negara-negara ini menjadi negara tanpa ketenangan. Beberapa kali pihak negara lain mencoba untuk menengahi, tapi apa daya, sepertinya sia-sia. Karena selalu dipenuhi praduga yang tidak berdasar dan terbukti. Kemudian menyalahkan pihak lain yang mengakibatkan perpecahan. Sementara di Indonesia, ketika yang diserang adalah Islamnya, seperti Palestina, banyak yang berteriak “Kemanakah Dunia?” , tapi ketika muslim Sunni di Yaman, membantai kaum muslim Syiah, umat Islam di Indonesia terdiam. Menurut mereka Syiah bukan bagian dari Islam. Tapi ketika Ahmadi Nejad terang-terangan memerangi Israel, umat Islam Sunni menyanjungnya.

Islam hancur karena kepentingan politik. Tercerai berai dan tak bisa menunjukkan kehebatan apa dan siapa itu Islam. Bahkan di Indonesia saat ini, yang terjadi seperti api dalam sekam, mulai terasa banyak benturan, namun belum mencuat keatas.

Janganlah menjadi Islam yang membuat standar ganda. Mengatakan Islam adalah ‘rahmatan lil alamin namun disisi lain ikut mendukung (walaupun diam-diam) serangan Paris. Apapun alasannya, kekerasan dan menimbulkan korban jiwa adalah kejahatan. Tak akan bisa menjadi pembenaran agama (apapun). Berempatilah kepada siapapun yang terkena dampak kekerasan atau yang menjadi korban.

CINTA DAN POLIGAMI

image

Suatu saat wall facebook saya melihat dan membaca sharing dari seorang teman, tentang status seorang ustad terkenal yang memperingatkan tentang POLIGAMI. Ditampilkan juga foto keluarga ustad tersebut bersama kedua istrinya. Mengenai ustad tersebut saya tidak ada komen apapun. Tapi saya lebih tertarik pada komentar-komentar tentang status yang dibuat ustad tersebut.

image

Seorang wanita, berkomentar atas status tersebut dan merasa keberatan bahwa dengan alasan “sunnah” maka seorang laki-laki berhak untuk mempunyai lebih dari satu istri. Dengan memberikan tambahan, jika benar-benar mengikuti ajaran sunnah maka nikahilah para janda-janda terlantar yang usianya lebih tua, atau janda-janda miskin. Komentar tersebut ditanggapi beragam kembali oleh komentar lainnya, baik yang pro dan kontra. Tetapi semua komen tersebut seperti hiburan bagi saya.

Sebagai laki-laki normal, tentu saja melihat wanita itu adalah keindahan. Nafsu birahi pun kadang naik. Tapi, apakah dengan itu cukup untuk bisa melakukan POLIGAMI? Ada banyak yang akan terluka, ada banyak yang akan kecewa, bilamana selalu memikirkan ego saja. Sepertinya para pemuka agama, selalu beralasan dengan ajaran sunnah. Apalagi, para istrinya tersebut telah didoktrin, jika tidak menuruti perintah suami akan jauh dari wangi surga. Ahh..saya tidak ingin sampai mendoktrin seperti itu. Pengabdian yang tulus, saling memberi dan saling membahagiakan lebih utama. Karena prinsip cinta adalah seperti itu. Memberikan pengorbanan kita agar pasangan kita selalu bahagia.

RELOKASI RUMAH SAKIT

Relokasi Rumah Sakit dimungkinkan dikarenakan, bangunan Rumah Sakit sebelumnya sudah mengalami masa usia yang cukup tua, juga pengembangan untuk merenovasinya sudah tidak memungkinkan. Selain itu juga ada kepentingan mengenai masalah tata ruang kota dimungkinkan juga untuk merelokasi Rumah Sakit.

Tahun ini di tempat saya bekerja yaitu RSU Daerah Provinsi akan merelokasi rumah sakit, ke daerah pinggiran kota. Relokasi Rumah Sakit tentu berbeda dengan relokasi kantor secara umum, mengingat bukan hanya barang yang dipindahkan, tetapi juga pasien dan alat kesehatannya. Karena berkaitan dengan nyawa maka dibutuhkan suatu rencana yang strategis agar semua tahap relokasi berjalan dengan baik.

Saya akan membahas tentang alat kesehatannya. Seperti yang kita ketahui, alat kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan kebutuhannya dari rumah sakit, karena sebagai terapi atau diagnostik untuk pasien. Penanganannya pun haruslah berbeda. Ini saya jelaskan beberapa tahapan untuk relokasi alat kesehatan.

1. TAHAPAN PRA INSTALL

Tahapan Pra-Install adalah tahapan kegiatan pemenuhan penunjang alat, yg berada diluar fungsi internal alat itu sendiri, agar bisa bekerja optimal . Contohnya : Pembuatan grounding, pengkondisian suhu, Kestabilan listrik..dan lain-lain

2. TAHAPAN UN-INSTALL

Tahapan pembongkaran alat kesehatan, terutama alat kesehatan yg mempunyai ukuran besar seperti alat rontgen, CT-Scan, Operating Lamp, dan lain-lain. Diatur sedemikian lupa, agar tidak menyulitkan  pada saat RE-INSTALL

3. TAHAPAN RE-INSTALL

Tahapan menyusun kembali, setelah alat berada ditempatkan diruangan atau tempat yang baru.

4. TAHAPAN UJI FUNGSI DAN UJI COBA

Tahapan mengoperasikan kembali alat kesehatan yang telah di Install. Kondisi harus sama pada saat sebelum dipindah. Fungsi tombol atau pengaturan berfungsi dengan baik, dan uji coba bisa dilakukan dengan simulasi .

Karena sangat pentingnya alat kesehatan bagi treatmen pasien maka harus selalu “patient safety oriented”.

Paranoid

Suatu ketika saya melihat status Facebook di wall seorang teman, dia men-share sebuah status lagi,  yang kira-kira seperti gambar dibawah ini.

image

image

image

Dan seterusnya, masih banyak lagi lanjutannya .. Film animasi “Minion” merupakan film yang sedang hits pada saat ini. Karena animasi, maka biasanya segmen yang dituju adalah anak-anak. Dan memang, kalangan anak-anak sangat menyukainya,  bahkan tidak hanya anak-anak, yang remaja dan dewasa pun menyukainya. Bentuknya yang mini, lucu dan imut, bikin semua gemas terhadap para minion ini.

Tapi, entah bagaimana…,, ada saja orang yang selalu mengkait-kaitkan segala sesuatu yang sebenarnya koneksi antara yang satu dengan yang lainnya itu tidak ada hubungannya sama sekali, menjadi diada-adakan dengan segala macam dalih atau teori. Intinya adalah, film-film animasi ini adalah salah satu bagian dari sebuah skema “brainwash” , yang bisa merubah pandangan seseorang. Apalagi segmen yang disasar sebagian besar adalah segmen anak-anak. Benarkah itu ??

Tak ada yang bisa meyakinkan itu. Tapi satu hal yang pasti, ini terlalu berlebihan. Mungkin teorinya seperti teori hipnotis, dengan memunculkan  simbol-simbol tersembunyi, sehingga mampu menghipnotis atau mensugesti seseorang yang hingga mampu menpengaruhi pikirannya. Kenyataannya adalah, anak-anak atau orang-orang yang telah menonton  ini, tak satupun terpengaruh dengan hal-hal yang disembunyikan diatas.  Film ini termasuk film animasi laris, jutaan penonton telah menonton film ini  Artinya… bisa saja semua yang telah nonton ini berubah atau menjadi pindah agama, termasuk sebagian dari kita yang tinggal di Indonesia, pasti akan berbondong-bondong pindah agama  Arghh… masa sih ?

Saya telah nonton film “Despicable Me 1 dan 2” yang merupakan awal mula si “Minion” ini jadi tenar. Kesimpulan saya, ini cuma film animasi humor dan dibumbui drama .. that’s all. Tidak ada yang istimewa. Apalagi film ini, yang katanya prekuel dari “Despicable Me” .

Semua yang dibahas di status tersebut merupakan bagian dari “cocoklogi”. Dicocok-cocokan, memaksakan hal sesuatu disamakan dengan hal lainnya. Kesimpulannya pun bernada  sindiran dan provokatif. Padahal  tujuan awalnya dibuat cuma sekedar hiburan semata.

Paranoid adalah ketakutan yang sangat besar akan suatu hal. Dicocok-cocokan agar menjadi realistis. 

Disinilah pentingnya umat yang kritis dan cerdas. Harus dipahami, bahwa mengubah ideologi dan keyakinan tidak semudah dari sekedar hal-hal yang digambarkan diatas. Contohnya saja, Lia Eden, dia menyebarkan ajaran yang cukup “aneh” tapi takkan seorang pun yang bisa merubah keyakinan dia, kecuali dia sendiri yang ingin merubah keyakinannya dia. Artinya, keyakinan atau iman, dibentuk berdasarkan paham-paham atau ilmu-ilmu yang telah didapatkan, kemudian disimpulkan sesuai nalarnya masing-masing orang atau individu. Jadi salah satu benteng kuat agar tidak mudah terpengaruh, ya.. banyak-banyak ilmu. Bukan hanya sekedar menonton simbol-simbol tersembunyi, kemudian akan menjadi terpengaruh. Itu tidak akan cukup.

Nikmati saja filmnya… tidak usah berpikiran macam-macam, yang penting anak senang, yakinlah… apa yang disebutkan pada gambar diatas cuma kesimpulan yang tak berdasar.

.

Priangan_ekspres