AKREDITASI RUMAH SAKIT, HOROR ??

sertifikat-akreditasi-2-5758bfff957e61ef1f76e3ed

Contoh Sertifikat Akreditasi RS 

Dan kini giliran RS tempat saya bekerja untuk melaksanakan akreditasi. Saya masuk RSUD Provinsi NTB ini tahun 2003, dan selama itu sampai saat kemarin, masih belum paham tentang akreditasi. Setahu saya masalah akreditasi adalah tentang penilaian yang dapat menjadikan nilai lebih, dan prestise bagi rumah sakit tersebut, tanpa mengetahui proses yang terjadi didalamnya untuk mendapatkan nilai tersebut.

Tahun kemarin (2016) keluarlah SK Direktur, bahwa saya dimasukkan dalam pokja (Kelompok Kerja) MFK, salah satu bagian dari 15 pokja yang akan dinilai dalam akreditasi. Pokja MFK  (Manajemen Fasilitas Kesehatan) titik beratnya kepada Keselamatan, Keamanan, Penanganan Bencana, dan Pemeliharaan Peralatan baik Medis maupun non Medis. Posisi sebagai sekretaris pokja .

Awalnya saya hanya faham bahwa MFK itu hanya pada peralatan medis, karena kebetulan bidang yang saya geluti adalah bidang pemeliharaan peralatan medis. Tapi begitu mengikuti pelatihan akreditasi tentang MFK ini, ternyata lebih dari itu. Pemeliharaan peralatan medis hanya bagian kecil saja. Masih banyak unsur yang harus dikerjakan untuk menaikkan nilai MFK, dan semua terangkum dalam kegiatan K3RS (Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit)

Hal yang paling berat adalah memenuhi sarana fisik agar sesuai dengan apa yang disyaratkan dalam perundang-undangan, karena RS yang ada ini adalah bangunan baru yang  ternyata kualitasnya masih jauh dari standar keselamatan dan keamanan. Yang kedua adalah merubah budaya kerja yang menjadi “safety oriented”. Yang ketiga, pencatatan seluruh kegiatan kemudian dievaluasi dan ditindaklanjuti. K3RS dulu sempat ada, namun kegiatannya sangat minim. Dengan standar KARS 2012 ini maka peranan K3RS sangat penting, karena ujung tombaknya ada di sini.

Rencana jadwal adalah November 2016, tapi ternyata harus mundur, dikarenakan sebagian besar pokja masih belum siap. Namun akreditasi RS adalah suatu keniscayaan, mau tidak mau, suka tidak suka harus dilaksanakan. Maka ditetapkan lah 9 Maret sampai 11 Maret 2017. Selama 3 bulan persiapan sebelum akreditasi dilaksanakan. Dikebut secepat mungkin agar segalanya siap pada saat penilaian. Target pun telah disiapkan, tak main-main adalah PARIPURNA. Nilai tertinggi dalam penilaian akreditasi. Semua pegawai dan karyawan dipaksa bekerja keras untuk menyukseskan akreditasi.

Akhirnya tibalah pada saat penilaian, semua cemas, jantung berdegup kencang. Semua anggota pokja merasakan ketegangan yang sama. Apalagi yang dihadapi adalah Surveyor sebenarnya, bukan ketika surveyor waktu simulasi. Berharap pokja kita mendapat giliran yang lebih dulu atau awal, biar bisa meringankan sedikit beban. Dan benar, pokja kita mendapat giliran yang kedua.

Ketika simulasi dulu, waktu yang diberikan cukup lama, sekitar hampir 2 jam, dan pada ketika penilaian, hanya ….30 menit !! Ya mungkin lebih-lebih dikit, tapi tidak sampai 1 jam. Ketika selesai telusur dokumen, rasanya lega, plong…dan semua anggota pokja MFK akhirnya bisa tersenyum. Rasa optimis muncul, yang awalnya pesimis. Ketika telusur lapangan, ada temuan-temuan, tapi bagi kita adalah suatu input atau masukan, atau kritikan. Telusur lapangan berlangsung selama 2 hari. Beberapa memang harus segera diperbaiki selama masih bisa dilakukan dalam periode penilaian.

Dan ketika penutupan, bahagia seketika membuncah. Semua akhirnya bisa terlewati dengan baik. Tapi yang membuat bangga adalah, kita tidak peduli apapun hasilnya, walaupun harapan terbesarnya adalah paripurna. Karena selama 3 hari penilaian, RS kita telah berubah. Perubahan yang sangat mencolok, dan berbeda sebelum akreditasi. Bahkan pasca akreditasi ini masih bisa dirasakan nikmatnya.

Berubah menjadi yang lebih baik itu indah. Walaupun lelah, susah payah, emosi tak terkendali, tapi demi kebaikan itu suatu keharusan. Horor ?? Ya mungkin itu awalnya tapi jerih payah usahanya akan terasa ke depannya. Siapa yang tidak suka Ketertiban? Siapa yang tidak suka kenyamanan? Siapa yang tidak suka Keamanan? dan inilah semua tujuan akreditasi ini. Lingkupnya tidak hanya pada pasien dan pegawai, tapi semua civitas rumah sakit didalamnya, pasien, pegawai, pengunjung, kontraktor rs, bahkan sampai kepada lingkungan sekitar rumah sakit, harus saling bersinergi.

Mari kita rubah stigma rumah sakit pemerintah itu jorok, pelayanannya buruk, tidak nyaman, dan lain sebagainya, tapi dengan akreditasi ini, semua rumah sakit dipaksa berubah, bersalin ke yang lebih baik. Bahwa penilaian juga tidak berhenti pada saat akreditasi, akan terus dipantau, hingga 3 tahun dan re-akreditasi lagi.

Akreditasi Rumah Sakit , Horor?? Masih sereman nonton Conjuring ……

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Membuat Soal Uji Kompetensi

)Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan. Kompetensi ini menjadi ujung tombak dalam suatu keahlian tertentu yang harus dimiliki secara personal atas apa yang telah didapat setelah melalui tahapan pendidikan serta beberapa pengalaman. Kompetensi juga merupakan bagian dari tanggung jawab suatu profesi. Orang yang telah melewati tahapan tersebut selanjutnya dikatakan kompeten.

Kali ini, saya mempunyai kesempatan ikut pelatihan yang bernama “Item Development”. Awalnya tidak ada gambaran sama sekali tentang apa yang dimaksud dengan “Item Development”, namun  ternyata tujuan utamanya adalah pelatihan membuat soal untuk uji kompetensi.

Membuat soal uji kompetensi untuk teman-teman profesi tidak sama dengan membuat soal untuk anak-anak sekolah ujian nasional, atau bahkan untuk ujian seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Apa yang membuat beda ? adalah karakteristik soalnya. Karakteristik soalnya harus mampu membuat peserta uji memancing nalar keahlian dalam menangani suatu persoalan.

Nahh..kalau begitu pasti ada syarat-syarat tertentu untuk bikin soalnya. Ya..pasti, banyak persyaratannya, sehingga soal-soal tersesbut layak untuk dapat dikerjakan oleh peserta uji. Dan saya ditantang untuk dapat membuat 100 soal. Whattt ?..untuk membuat satu soal saja, saya habis-habisan dikoreksi oleh pembimbing, apalagi harus buat 100 soal. Sampai saat ini, saat nulis di blog ini, progres bikin soalnya masih stuck. Padahal yang lain ada yang sudah sampai 2o soal (Woow..!!).

Ngomong-ngomong, bikin soalnya aja susah, apalagi jawabnya ya …?