Sirup Ketika Berbuka Puasa

Puasa telah berjalan hampir semiggu, tak ada hal yang spesial sebenarnya, tapi semua itu menjadi sebuah senyuman kecil, ketika anak saya, menyampaikan cerita kepada saya. Kira-kira seperti ini dialognya..

“Ayaahh..tadi teman ayah nanya, kalau buka puasa makanan dan minumannya apa?”

“Terus, kamu jawab apa ?”

“Ya..Iki jawab, air putih sama jajan dan makan nasi “

“Terus??”

” Ya..temen ayah bilang, kok pelit amat sih masa cuma air putih doang, ga pake sirup “

” Terus menurut Iki..ayah pelit gak ?”

” Peliitt… “

Saya tertawa, tapi saya biarkan dia bicara apa adanya. Ya ..begitulah, di mata anak-anak seumuran itu, pasti ketika puasa akan mendambakan sesuatu yang enak-enak, sama juga ketika kecil saya berpuasa. Bayangan yang ada didepan mata adalah selalu makanan dan minuman yang enak-enak. Dan kebetulan, orang tuapun  juga senang masak, dan juga senang makan yang enak-enak. Makanya, keinginan saya waktu kecil dengan keinginan orang tua terutama ibu pada waktu itu nyambung. Jadilah kita makanan yang enak-enak setiap buka puasa. Sirup dengan rasa macam-macam dan hidangan makanan segala rupa sudah terhidang di meja sebelum berbuka puasa. Dan itu benar-benar cobaan yang menyiksa dikala itu.

Sampai pada akhirnya, ada kejadian yang dialami oleh saya. Begitu besarnya keinginan untuk menyantap, sehingga semua hidangan dalam sekejap habis. Tidak lama kemudian ada tetangga datang membawakan hidangan juga, itu juga saya sikat habis. Apa yang terjadi kemudian ?? Menjelang tengah malam, perut saya terasa keras sekali, sangat sakit. Kalau orang busung lapar, perut menggembung karena terlalu banyak udara, tapi kalau saya sebaliknya. Perut menggembung karena terlalu banyak makan. Istilah orang Sunda namanya “kemerekaan”. Peristiwa ini saya rasakan hingga beberapa jam ke depan, bahkan sampai menjelang sahur. Begitu tersiksanya, tidur tidak bisa, mengeluarkan makanan dengan proses pencernaan normal pun tidak bisa. Terapi yang dilakukan waktu itu ialah menggunakan botol bekas sirup, kemudian diisi dengan air hangat, terus dipilin di perut. Benar-benar membuatku nyaman.

Sejak kejadian itu, trauma untuk makan besar lagi. Dan seperti kata pak ustadz bilang, itulah namanya hawa nafsu, kalau tidak dikendalikan ya akhirnya yang tersiksa diri sendiri. Tapi ini tidak hanya selesai sampai disini. Selesai Ramadhan dan kemudian Lebaran atau Idul Fitri, ternyata menyisakan juga persoalan, salah satunya ya .. biaya bayar hutang makin tinggi. Ternyata apa yang dilakukan ibuku untuk menyenangkan diriku itu berasal dari hutang.

Pelajaran yang saya dapat dari peristiwa tersebut adalah, sebenarnya bulan Puasa justru mendidik saya memahami akan hidup sederhana. Hidup yang tidak selalu dikendalikan nafsu manusiawi. Saya perhatikan bahwa, tingkat konsumsi  masyarakat Indonesia justru meningkat dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Padahal secara teoritis harusnya justru berkurang, karena kita berpuasa selama 12 jam. Akhirnya yang terjadi adalah, harga semakin mahal, dan tentu saja pemerintah telah mencatat, selalu setiap tahun inflasi yang terbesar itu terjadi pada bulan Ramadhan.

Makna Ramadhan, kenyataan memang semakin bergeser. Kalau kita hanya memikirkan masalah makanan dan minuman, maka hanya selesai sampai pangkal kerongkongan, ujung-ujungnya tetap menjadi feses. Mengendalikan diri merupakan bagian penting. Ada saatnya saya berbuka dengan sirup, tetapi ada saatnya berbuka dengan air putih biasa. Lebih penting dari semua itu adalah, belajarlah untuk tetap sederhana. Membiasakan sederhana dengan pelit, mungkin beda tipis, tapi dengan membiasakan hidup sederhana, apapun masalah kedepannya dengan segala macam materi, maka kita akan “kebal” terhadap masalah itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s