Antara Mengajar dan Belajar …

image

Suatu ketika, saya diminta bantuannya untuk menjadi dosen pembantu, mengajar di sebuah akademi kesehatan swasta. Sebenarnya, permintaan mengajar itu dah dari 2 tahun sebelumnya, tapi saya merasa masih kurang percaya diri. Apalagi materi atau mata kuliah yang akan dibahas adalah Fisika Kesehatan. Dengar kata “Fisika” aja udah terasa horror banget. Dulu mata pelajaran yang paling saya hindari adalah Fisika. Itu satu-satunya kelemahan saya… (*heheh, gaya Indro banget). Rumus yang rumit, bikin kepala cenat cenut ngalahin, cenat cenutnya sakit gigi…. eh.. maaf, sakit gigi masih menang, deng. Ya pokoknya .. puyeng lah.

Dari sekian kali penolakan dan ngeles.., mau gak mau akhirnya diterima juga. Lagian, ada hutang budi juga, yang tidak bisa saya tolak. Dan… akhirnya, jadilah saya Dosen. Pengalaman mengajar sebetulnya bukan hal yang asing juga buat saya. Ketika, setelah lulus SMA, saya sempat menjadi guru privat, yang mengajar murid SMP selama 2 tahun.  Hitung-hitung sekalian menghangatkan otak juga waktu itu, karena dalam masa-masa pengangguran.

Ketika bekerja, sempat pula menjadi mentor untuk suatu pelatihan selama seminggu. Ini juga bikin keringat dingin.  Karena berhadapan dengan para peserta yang rata-rata umurnya jauh diatas saya. Kebayang kan… anak muda mengajar orang yang agak tua? Pasti ada rasa ego nya bagi yang merasa tua, dan pelampiasannya paling adalah banyak kritikan dan adu debat. Ya, setidaknya itu yang ada dalam pikiran saya. Tapi ternyata, keadaannya berbeda, justru ada rasa respek mereka terhadap saya. Ini lah yang membuat saya merasa, menjadi pengajar/mentor itu adalah suatu tantangan.

Nah, mengapa tantangan?? Menjadi pengajar adalah bukan cara bagaimana kita harus pintar atau pandai dalam suatu bidang ilmu, tetapi harus bisa memfasilitasi keinginan para peserta kemudian memancing keingintahuannya sehingga para peserta menjadi kritis. Itulah yang sulit. Guru fisika saya waktu SMA, saya yakin dia pintar fisika, tetapi dia sepertinya transfer ilmu ke otak saya agak susah… ataauuuu…emang otak saya yang nolak secara otomatis pelajaran fisika kali ya..!? (Hehe..)

Yang dihadapi kali ini adalah, mahasiswa… eh bukan..mahasiswi. Full semuanya adalah cewek Berbeda dengan ketika menjadi mentor. Dengan berumur kisaran antara 19-23 tahun, masa matang-matangnya bagi seorang cewek. Tentu dari yang centil dan manja pasti ada.

Bahan-bahan mata kuliah sudah didapatkan, tinggal bagaimana cara penyampaiannya.  Kita sepakat, dan saya yakin juga, mereka akan muak, dengan segala rumus Fisika, jadi mungkin lebih mengena langsung kepada aplikasi dan implementasinya. Dan .. harapan saya semua akan paham dan mengerti.

1 semester dah dilalui, tinggal ujian akhir semester. Soal dibuat semudah mungkin, berharap mereka bisa menjawab dengan baik pula. Ketika, akhirnya jawaban soal sudah terletak di meja saya, dan kemudian saya periksa,  ternyata hasilnya jauh dari apa yang saya harapkan. Bagaimana ini?? Salahnya ada dimana??

Ada sebuah analogi seperti ini, jika perbandingan anak murid yang mendapatkan nilai jelek lebih sedikit dibandingkan yang nilai bagus, maka masalah ada di anak murid itu sendiri. Tapi jika kebalikannya, yang dapat nilai jelek merupakan mayoritasnya, maka seorang pengajar perlu dipertanyakan metodenya. Inilah yang selalu menjadi pikiran, mengapa saya banyak menolak untuk mengajar mahasiswa.

Terus terang ada perbedaan yang cukup unik, ketika menjadi pengajar dengan para pesertanya yang sudah berumur dan berpengalaman, dibandingkan remaja-remaja menjelang dewasa yang belum berpengalaman. Entah ini dialami oleh pengajar yang lain atau tidak, tapi saya merasa orang-orang tua tersebut justru lebih konsern atau perhatian daripada remaja-remaja tersebut. Itu hanya pendapat empiris aja, ga tau penelitian ilmiahnya ada apa enggak. Ketika menyampaikan materi, banyak pertanyaan, sehingga materi terus berkembang. Dan pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak harus kita tau jawabannya, kembali kita lempar menjadi bahan diskusi, sehingga tidak terasa waktu yang diberikan cepat habis. Berbeda dengan mengajar bagi yang masih remaja menjelang dewasa, ya.. mungkin konsentrasi belum penuh kali ya? Bisa jadi raganya ada didalam kelas, tapi pikirannya ada diluar kelas. Ketika melontarkan “Ada pertanyaan?” jawabannya “Tidak adaa.. pak”, ketika ditanya balik, malah tidak bisa jawab.. haha. Materi tidak berkembang.

Inilah pembelajaran, masih banyak ternyata yang harus saya pelajari. Mengajar bukan berarti tidak belajar, saya sama dengan mereka, bedanya adalah saya punya pengalaman.  Dan pengalaman itu adalah ilmu. Menyampaikannya pun perlu dengan ilmu. Kemudian, memberikan evaluasi juga perlu dengan ilmu. Jadi bisa disimpulkan, mengajar dengan belajar ya sama. Para guru menjadi pintar, karena penyampaian materi yang terus berulang, begitu juga dengan saya. Ya.. wajib belajar tetap berlaku selama kita masih hidup

Priangan_ekspres

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s