Bandara Adi Sucipto (Departure)

Keberangkatan kembali menuju Lombok, menggunakan pesawat Lion JT-234, dengan jadwal penerbangan pukul 17.50.  Ketika kedatangan di Bandara ini, cukup simpel, karena begitu masuk ruang tunggu bagasi, pintu keluar sudah nampak. Kebalikannnya, dengan terminal keberangkatan sore itu, penumpang benar-benar padat. Mungkin karena hari itu kebetulan adalah hari Sabtu.

image

Suasana di ruang check ini agak “crowded”. Gerbang check-in untuk Lion, cuma dua, untuk memenuhi segala jurusan.  Untungnya datang ke Bandara lebih awal waktunya, kalau enggak, mungkin campur baur dengan jurusan lain, dan bikin terhambat.

image

Tempat duduk semua terisi penuh, akhirnya ya .. lesehan aja. Suasana ini sebenarnya bikin saya kaget. Karena, Yogyakarta merupakan destinasi kota wisata. Seharusnya, pengelolaan Bandaranya sudah tidak seperti ini lagi. Terlihat jelas bahwa arus penumpang di Bandara ini cukup padat.

Memang ada wacana, Bandara Adi Sucipto sudah over-crowded, sehingga seharusnya sudah tidak layak lagi, dan akan dipindah. Tapi sampai sekarang masih sekedar wacana.

Tidak betah menunggu di ruang check-in, akhirnya saya putuskan untuk masuk ke ruang tunggu aja. Biarpun waktu boarding masih lama.

image

Ruang Tunggu Bandara Adi Sucipto

Kebalikannya dari ruang check-in, disini agak luas dan lebih banyak tempat duduk. Terdiri dari 4 gerbang Boarding.  Jadi saran saya, di Bandara ini, jangan terlalu lama di ruang check-in, lebih baik masul langsung ke ruang tunggu. Berapapun masih lama penerbangannya anda.

image

Waktu boarding telah tiba, panggilan untuk segera masuk pesawat telah dikumandangkan. Ketika melihat keluar, apron bandara cukup banyak, mungkin sekitar 5. Cukup jalan aja untuk menuju pesawat, tidak perlu naik bis menuju pesawat.

Dan kali ini, saya mendapat “kehormatan” untuk menaikin pesawat pesanan Lion Air yang ke 100.

image

image

Jenis pesawat terbaru dari Boeing, seri B 737-900 ER. Suasana kabin pun masih kinyis-kinyis. Kursi-kursi masih terlihat bersih. Dan spasi jarak antar kursi lebih lebar dibandingkan saya berangkat dari Lombok.

image

Suasana kabin

Dan menjelang, magrib waktu setempat, pesawat kamipun lepas landas menuju Bandara Internasional Lombok. 

See you Yogya, Welcome Lombok

Priangan_ekspres

Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta (Arrival)

Beberapa waktu lalu, untuk pertama kalinya menyempatkan diri mampir kota Yogyakarta, dengan menggunakan pesawat. Penerbangan dari Lombok jadwalnya adalah pukul 06.00 WITA, sehingga waktu Check-in sekitar pukul 04.30 WITA. Mau tidak mau .. ya harus bangun dini hari sekitar jam 3.

image

Bandara Internasional Lombok di pagi hari

Suasana dingin dan berangin membuat terasa beku tangan. Bandara masih sepi. Hanya beberapa orang dari petugas keamanan yang mulai mengatur kendaraan yang mulai datang. Penerbangan paling pagi pertama adalah penerbangan ke Bali, kemudian baru ke Yogyakarta.  Pukul 5.30, terdengar pengumuman untuk segera boarding, padahal dibawah masih banyak penumpang yang check-in. Tapi itulah Lion .. kadang kalau lagi mood nya bener, malah boardingnya kecepetan.

Tepat pukul 06.00, akhirnya pesawat Lion dengan nomor penerbangan JT-235, terbang menuju Bandara Adi Sucipto.  Pemandangan yang indah dikala, melihat matahari terbit dibalik puncak Rinjani.

image

Menikmati matahari terbit

Lama penerbangan, sekitar 1 jam 30 menit. Waktu yang cukup lumayan untuk melanjutkan kembali sisa tidur yang tersisa.

image

Tiba di Bandara Adi Sucipto

Akhirnya terdengar juga pengumuman, bahwa akan segera mendarat di Bandara Adi Sucipto.  Terjadi perbedaan waktu selisih 1 jam lebih lambat dibandingkan waktu Lombok. Sehingga sampai di Bandaranya pun masih pagi.

Bandara Adi Sucipto sebenarnya milik TNI Angkatan Udara, sama seperti yang ada di Madiun. Kalau sekilas, sebenarnya bandara ini mirip dengan Husein Sastranegara di Bandung, tapi ini sedikit lebih besar. Membandingkan dengan Bandara Internasional Lombok? Masih besaran Bandar Internasional Lombok. Padahal status Bandara Adi Sucipto juga merupakan Bandara Internasional.

image

Selfi dulu di Bandara

Yang menarik dari Bandara ini adalah tersedianya, banyak angkutan yang terintegrasi. Dari mulai taksi, Damri, Trans Jogja, hingga Kereta Api. Khusus untuk Kereta Api, hanya 2 Bandara yang terintegrasi dengan angkutan yang satu ini, yaitu Bandara Kuala Namu, Medan Sumatera Utara, dan Adi Sucipto ini.

image

Terowongan penghubung menuju Shelter Trans Jogja dan Stasiun Maguwo

Saya ambil transportasi Kereta Api, mengingat lebih cepat ke pusat kota, dibandingkan dengan Trans Jogja. Dengan mengikuti petunjuk yang tertera menuju stasiun Maguwo, cukup nyaman sepanjang jalan, karena dilengkapi dengan pendingin terowongannya.

Sekitar 5 menit sampai di St. Maguwo. Stasiun ini sebenarnya stasiun baru. Stasiun lamanya berada sekitar 500 meter ke arah barat lagi. Di geser karena demi kepentingan integrasi angkutan.

image

Stasiun Maguwo, pandangan ke arah Timur

image

Stasiun Maguwo, pandangan ke arah Barat

Jika ingin ke Malioboro, maka pilihan naik Kereta adalah yang paling tepat. Karena dengan menggunakan Prameks atau Sriwedari, maka langsung berhenti di Stasiun Tugu, yang jaraknya tidak jauh dengan Jalan Malioboro yang terkenal.

Priangan_ekspres

Paranoid

Suatu ketika saya melihat status Facebook di wall seorang teman, dia men-share sebuah status lagi,  yang kira-kira seperti gambar dibawah ini.

image

image

image

Dan seterusnya, masih banyak lagi lanjutannya .. Film animasi “Minion” merupakan film yang sedang hits pada saat ini. Karena animasi, maka biasanya segmen yang dituju adalah anak-anak. Dan memang, kalangan anak-anak sangat menyukainya,  bahkan tidak hanya anak-anak, yang remaja dan dewasa pun menyukainya. Bentuknya yang mini, lucu dan imut, bikin semua gemas terhadap para minion ini.

Tapi, entah bagaimana…,, ada saja orang yang selalu mengkait-kaitkan segala sesuatu yang sebenarnya koneksi antara yang satu dengan yang lainnya itu tidak ada hubungannya sama sekali, menjadi diada-adakan dengan segala macam dalih atau teori. Intinya adalah, film-film animasi ini adalah salah satu bagian dari sebuah skema “brainwash” , yang bisa merubah pandangan seseorang. Apalagi segmen yang disasar sebagian besar adalah segmen anak-anak. Benarkah itu ??

Tak ada yang bisa meyakinkan itu. Tapi satu hal yang pasti, ini terlalu berlebihan. Mungkin teorinya seperti teori hipnotis, dengan memunculkan  simbol-simbol tersembunyi, sehingga mampu menghipnotis atau mensugesti seseorang yang hingga mampu menpengaruhi pikirannya. Kenyataannya adalah, anak-anak atau orang-orang yang telah menonton  ini, tak satupun terpengaruh dengan hal-hal yang disembunyikan diatas.  Film ini termasuk film animasi laris, jutaan penonton telah menonton film ini  Artinya… bisa saja semua yang telah nonton ini berubah atau menjadi pindah agama, termasuk sebagian dari kita yang tinggal di Indonesia, pasti akan berbondong-bondong pindah agama  Arghh… masa sih ?

Saya telah nonton film “Despicable Me 1 dan 2” yang merupakan awal mula si “Minion” ini jadi tenar. Kesimpulan saya, ini cuma film animasi humor dan dibumbui drama .. that’s all. Tidak ada yang istimewa. Apalagi film ini, yang katanya prekuel dari “Despicable Me” .

Semua yang dibahas di status tersebut merupakan bagian dari “cocoklogi”. Dicocok-cocokan, memaksakan hal sesuatu disamakan dengan hal lainnya. Kesimpulannya pun bernada  sindiran dan provokatif. Padahal  tujuan awalnya dibuat cuma sekedar hiburan semata.

Paranoid adalah ketakutan yang sangat besar akan suatu hal. Dicocok-cocokan agar menjadi realistis. 

Disinilah pentingnya umat yang kritis dan cerdas. Harus dipahami, bahwa mengubah ideologi dan keyakinan tidak semudah dari sekedar hal-hal yang digambarkan diatas. Contohnya saja, Lia Eden, dia menyebarkan ajaran yang cukup “aneh” tapi takkan seorang pun yang bisa merubah keyakinan dia, kecuali dia sendiri yang ingin merubah keyakinannya dia. Artinya, keyakinan atau iman, dibentuk berdasarkan paham-paham atau ilmu-ilmu yang telah didapatkan, kemudian disimpulkan sesuai nalarnya masing-masing orang atau individu. Jadi salah satu benteng kuat agar tidak mudah terpengaruh, ya.. banyak-banyak ilmu. Bukan hanya sekedar menonton simbol-simbol tersembunyi, kemudian akan menjadi terpengaruh. Itu tidak akan cukup.

Nikmati saja filmnya… tidak usah berpikiran macam-macam, yang penting anak senang, yakinlah… apa yang disebutkan pada gambar diatas cuma kesimpulan yang tak berdasar.

.

Priangan_ekspres

Sirup Ketika Berbuka Puasa

Puasa telah berjalan hampir semiggu, tak ada hal yang spesial sebenarnya, tapi semua itu menjadi sebuah senyuman kecil, ketika anak saya, menyampaikan cerita kepada saya. Kira-kira seperti ini dialognya..

“Ayaahh..tadi teman ayah nanya, kalau buka puasa makanan dan minumannya apa?”

“Terus, kamu jawab apa ?”

“Ya..Iki jawab, air putih sama jajan dan makan nasi “

“Terus??”

” Ya..temen ayah bilang, kok pelit amat sih masa cuma air putih doang, ga pake sirup “

” Terus menurut Iki..ayah pelit gak ?”

” Peliitt… “

Saya tertawa, tapi saya biarkan dia bicara apa adanya. Ya ..begitulah, di mata anak-anak seumuran itu, pasti ketika puasa akan mendambakan sesuatu yang enak-enak, sama juga ketika kecil saya berpuasa. Bayangan yang ada didepan mata adalah selalu makanan dan minuman yang enak-enak. Dan kebetulan, orang tuapun  juga senang masak, dan juga senang makan yang enak-enak. Makanya, keinginan saya waktu kecil dengan keinginan orang tua terutama ibu pada waktu itu nyambung. Jadilah kita makanan yang enak-enak setiap buka puasa. Sirup dengan rasa macam-macam dan hidangan makanan segala rupa sudah terhidang di meja sebelum berbuka puasa. Dan itu benar-benar cobaan yang menyiksa dikala itu.

Sampai pada akhirnya, ada kejadian yang dialami oleh saya. Begitu besarnya keinginan untuk menyantap, sehingga semua hidangan dalam sekejap habis. Tidak lama kemudian ada tetangga datang membawakan hidangan juga, itu juga saya sikat habis. Apa yang terjadi kemudian ?? Menjelang tengah malam, perut saya terasa keras sekali, sangat sakit. Kalau orang busung lapar, perut menggembung karena terlalu banyak udara, tapi kalau saya sebaliknya. Perut menggembung karena terlalu banyak makan. Istilah orang Sunda namanya “kemerekaan”. Peristiwa ini saya rasakan hingga beberapa jam ke depan, bahkan sampai menjelang sahur. Begitu tersiksanya, tidur tidak bisa, mengeluarkan makanan dengan proses pencernaan normal pun tidak bisa. Terapi yang dilakukan waktu itu ialah menggunakan botol bekas sirup, kemudian diisi dengan air hangat, terus dipilin di perut. Benar-benar membuatku nyaman.

Sejak kejadian itu, trauma untuk makan besar lagi. Dan seperti kata pak ustadz bilang, itulah namanya hawa nafsu, kalau tidak dikendalikan ya akhirnya yang tersiksa diri sendiri. Tapi ini tidak hanya selesai sampai disini. Selesai Ramadhan dan kemudian Lebaran atau Idul Fitri, ternyata menyisakan juga persoalan, salah satunya ya .. biaya bayar hutang makin tinggi. Ternyata apa yang dilakukan ibuku untuk menyenangkan diriku itu berasal dari hutang.

Pelajaran yang saya dapat dari peristiwa tersebut adalah, sebenarnya bulan Puasa justru mendidik saya memahami akan hidup sederhana. Hidup yang tidak selalu dikendalikan nafsu manusiawi. Saya perhatikan bahwa, tingkat konsumsi  masyarakat Indonesia justru meningkat dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Padahal secara teoritis harusnya justru berkurang, karena kita berpuasa selama 12 jam. Akhirnya yang terjadi adalah, harga semakin mahal, dan tentu saja pemerintah telah mencatat, selalu setiap tahun inflasi yang terbesar itu terjadi pada bulan Ramadhan.

Makna Ramadhan, kenyataan memang semakin bergeser. Kalau kita hanya memikirkan masalah makanan dan minuman, maka hanya selesai sampai pangkal kerongkongan, ujung-ujungnya tetap menjadi feses. Mengendalikan diri merupakan bagian penting. Ada saatnya saya berbuka dengan sirup, tetapi ada saatnya berbuka dengan air putih biasa. Lebih penting dari semua itu adalah, belajarlah untuk tetap sederhana. Membiasakan sederhana dengan pelit, mungkin beda tipis, tapi dengan membiasakan hidup sederhana, apapun masalah kedepannya dengan segala macam materi, maka kita akan “kebal” terhadap masalah itu.

Alat-alat Elektromedik

DSC00014

X-Ray Mobile

Banyak orang  mempunyai persepsi yang salah tentang alat Elektromedik. Hanya dengan ada akhiran ” medik” dibelakang “elektro” maka orang akan berpendapat bahwa itu adalah alat medik/medis. Sehingga bisa digeneralisir bahwa alat elektromedik itu adalah sama dengan alat kesehatan. Sedangkan definisi alat kesehatan itu sangatlah luas, seperti yang tertera pada Undang-Undang Kesehatan no.36/2009. Sebegitu luasnya, maka gunting pun yang digunakan untuk memotong bagian tubuh pun, dikatakan sebagai alat kesehatan. Oleh karena itu, alat elektromedik bisa dikatakan sebagai bagian spesifik dari alat kesehatan.

Baik, mari kita kaji secara etimologinya, terdiri dari dua kata, yaitu : “elektro” dan “medik”. Elektro, bisa dikatakan adalah sesuatu hal atau benda yang berkaitan dengan arus listrik. Sedangkan Medik, seperti biasanya ada kaitan dengan kesehatan. Jadi kalau diartikan secara kasar bisa seperti begini, Elektromedik adalah segala atau sesuatu alat kesehatan yang dialiri listrik sebagai sumber utamanya untuk alat itu dapat bekerja. Dengan definisi tersebut maka penggolongan alat kesehatan semakin menyempit.

Syringe Pump

Syringe Pump

Jadi, alat apa sajakah yang termasuk dalam alat elektromedik ? Ya..kata kuncinya elektro dan medik, contohnya ya jelas banyak, seperti X-Ray, menggunakan listrik untuk bisa mendiagnosa pasien, Incubator menggunakan listrik untuk bisa melakukan terapi kepada pasien, dan seterusnya.

Ultra Sound Nebulizer

Ultrasound Nebulizer

Loh..jadi Tensimeter bukan alat elektromedik dong ? Kita lihat dulu, tensimeternya jenisnya seperti apa. Jika tensi itu menggunakan listrik, ya masuk dalam kategori alat elektromedik, tapi kalau sebaliknya, contohnya adalah tensimeter merkuri atau air raksa, maka berdasarkan 2 kata kunci diatas, ya tentu saja bukan. Tensimeter cuma masuk dalam kategori alat kesehatan saja, bukan alat elektromedik.

Sebenarnya apa fungsinya ? Bagi orang lain, hal seperti ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan kegiatan terapi atau pengobatan, tapi,  bagi profesi sebagai Teknik Elektromedik, maka hal seperti ini sangat penting. Karena apa ? Cakupan luas tentu akan membuat tugas dan tanggung jawab menjadi berat dan berlebih. Bayangkan jika harus memperbaiki gunting yang patah, padahal jika alat tersebut patah maka tentu saja sudah tidak bisa dipakai, kalaupun bisa penggunaannya tentu tidak maksimal.

Kenyataannya memang diberbagai tempat baik di rumah sakit negeri ataupun swasta, institusi kesehatan negeri ataupun swasta, tuntutan terhadap Teknik Elektromedik sangatlah tinggi. Tapi harapan tingginya, karena berharap seorang Teknisi Elektromedik bisa memperbaiki segala macam alat kesehatan, dan itulah stigma yang terjadi sekarang ini.

Oleh karena itu sangat penting bagi lulusan-lulusan Teknik Elektromedik, mengetahui kapasitas dirinya dan mengetahui sejauh mana tugas dan tanggung jawabnya, dalam mengemban profesi.

Hal-hal yang membatalkan puasa

Mengingatkan kembali..
YANG MEMBATALKAN PUASA

1. MELUDAH
Meludah akan membatalkan puasa kalo air ludah tsb mengenai alat kelamin lawan jenis kita, kemudian kita membantu membersihkannya.

2. TIDUR SIANG
Tidur siang akan menjadi batal jika kita tidur siang diatas badan orang lain yang bukan muhrimnya. Sedangkan jika kita tidur siangnya dibawah badan orang lain yang bukan muhrim, maka puasa kita tetap batal.

3. BERSENTUHAN
Bersentuhan dengan sengaja dengan isi dari bra sebelah kiri mantan pacar kita maka akan membatalkan puasa. Sedangkan jika menyentuh isi dari bra sebelah kanan, juga dapat membatalkan puasa. Namun jika kita menyentuh keduanya,tetep dapat membatalkan puasa.

4. MELEMPAR COIN
Melempar coin sehingga mengenai dada seorang gadis lalu kita meminta maaf karena menyesal sambil mengusap-usap dada tersebut selama 2 jam karena kasihan dengan gadis itu, maka perbuatan tadi dapat membatalkan puasa.

5. DUDUK-DUDUK
Duduk-duduk sambil iseng-iseng memasukkan nasi padang kedalam mulut hingga dua bungkus adalah dapat membatalkan puasa Sedangkan jika hanya duduk-duduk saja sambil menggoda ibu penjual nasi padang, lalu berselingkuh dengan ibu tersebut, juga membatalkan puasa

Priangan_ekspres

Antara Mengajar dan Belajar …

image

Suatu ketika, saya diminta bantuannya untuk menjadi dosen pembantu, mengajar di sebuah akademi kesehatan swasta. Sebenarnya, permintaan mengajar itu dah dari 2 tahun sebelumnya, tapi saya merasa masih kurang percaya diri. Apalagi materi atau mata kuliah yang akan dibahas adalah Fisika Kesehatan. Dengar kata “Fisika” aja udah terasa horror banget. Dulu mata pelajaran yang paling saya hindari adalah Fisika. Itu satu-satunya kelemahan saya… (*heheh, gaya Indro banget). Rumus yang rumit, bikin kepala cenat cenut ngalahin, cenat cenutnya sakit gigi…. eh.. maaf, sakit gigi masih menang, deng. Ya pokoknya .. puyeng lah.

Dari sekian kali penolakan dan ngeles.., mau gak mau akhirnya diterima juga. Lagian, ada hutang budi juga, yang tidak bisa saya tolak. Dan… akhirnya, jadilah saya Dosen. Pengalaman mengajar sebetulnya bukan hal yang asing juga buat saya. Ketika, setelah lulus SMA, saya sempat menjadi guru privat, yang mengajar murid SMP selama 2 tahun.  Hitung-hitung sekalian menghangatkan otak juga waktu itu, karena dalam masa-masa pengangguran.

Ketika bekerja, sempat pula menjadi mentor untuk suatu pelatihan selama seminggu. Ini juga bikin keringat dingin.  Karena berhadapan dengan para peserta yang rata-rata umurnya jauh diatas saya. Kebayang kan… anak muda mengajar orang yang agak tua? Pasti ada rasa ego nya bagi yang merasa tua, dan pelampiasannya paling adalah banyak kritikan dan adu debat. Ya, setidaknya itu yang ada dalam pikiran saya. Tapi ternyata, keadaannya berbeda, justru ada rasa respek mereka terhadap saya. Ini lah yang membuat saya merasa, menjadi pengajar/mentor itu adalah suatu tantangan.

Nah, mengapa tantangan?? Menjadi pengajar adalah bukan cara bagaimana kita harus pintar atau pandai dalam suatu bidang ilmu, tetapi harus bisa memfasilitasi keinginan para peserta kemudian memancing keingintahuannya sehingga para peserta menjadi kritis. Itulah yang sulit. Guru fisika saya waktu SMA, saya yakin dia pintar fisika, tetapi dia sepertinya transfer ilmu ke otak saya agak susah… ataauuuu…emang otak saya yang nolak secara otomatis pelajaran fisika kali ya..!? (Hehe..)

Yang dihadapi kali ini adalah, mahasiswa… eh bukan..mahasiswi. Full semuanya adalah cewek Berbeda dengan ketika menjadi mentor. Dengan berumur kisaran antara 19-23 tahun, masa matang-matangnya bagi seorang cewek. Tentu dari yang centil dan manja pasti ada.

Bahan-bahan mata kuliah sudah didapatkan, tinggal bagaimana cara penyampaiannya.  Kita sepakat, dan saya yakin juga, mereka akan muak, dengan segala rumus Fisika, jadi mungkin lebih mengena langsung kepada aplikasi dan implementasinya. Dan .. harapan saya semua akan paham dan mengerti.

1 semester dah dilalui, tinggal ujian akhir semester. Soal dibuat semudah mungkin, berharap mereka bisa menjawab dengan baik pula. Ketika, akhirnya jawaban soal sudah terletak di meja saya, dan kemudian saya periksa,  ternyata hasilnya jauh dari apa yang saya harapkan. Bagaimana ini?? Salahnya ada dimana??

Ada sebuah analogi seperti ini, jika perbandingan anak murid yang mendapatkan nilai jelek lebih sedikit dibandingkan yang nilai bagus, maka masalah ada di anak murid itu sendiri. Tapi jika kebalikannya, yang dapat nilai jelek merupakan mayoritasnya, maka seorang pengajar perlu dipertanyakan metodenya. Inilah yang selalu menjadi pikiran, mengapa saya banyak menolak untuk mengajar mahasiswa.

Terus terang ada perbedaan yang cukup unik, ketika menjadi pengajar dengan para pesertanya yang sudah berumur dan berpengalaman, dibandingkan remaja-remaja menjelang dewasa yang belum berpengalaman. Entah ini dialami oleh pengajar yang lain atau tidak, tapi saya merasa orang-orang tua tersebut justru lebih konsern atau perhatian daripada remaja-remaja tersebut. Itu hanya pendapat empiris aja, ga tau penelitian ilmiahnya ada apa enggak. Ketika menyampaikan materi, banyak pertanyaan, sehingga materi terus berkembang. Dan pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak harus kita tau jawabannya, kembali kita lempar menjadi bahan diskusi, sehingga tidak terasa waktu yang diberikan cepat habis. Berbeda dengan mengajar bagi yang masih remaja menjelang dewasa, ya.. mungkin konsentrasi belum penuh kali ya? Bisa jadi raganya ada didalam kelas, tapi pikirannya ada diluar kelas. Ketika melontarkan “Ada pertanyaan?” jawabannya “Tidak adaa.. pak”, ketika ditanya balik, malah tidak bisa jawab.. haha. Materi tidak berkembang.

Inilah pembelajaran, masih banyak ternyata yang harus saya pelajari. Mengajar bukan berarti tidak belajar, saya sama dengan mereka, bedanya adalah saya punya pengalaman.  Dan pengalaman itu adalah ilmu. Menyampaikannya pun perlu dengan ilmu. Kemudian, memberikan evaluasi juga perlu dengan ilmu. Jadi bisa disimpulkan, mengajar dengan belajar ya sama. Para guru menjadi pintar, karena penyampaian materi yang terus berulang, begitu juga dengan saya. Ya.. wajib belajar tetap berlaku selama kita masih hidup

Priangan_ekspres